Dasar-Dasar Ilmu Sejarah Sejarah secara sempit adalah sebuah peristiwa manusia yang bersumber dari realisasi diri, kebebasan dan kepu...
Jejak Sejarah Peradaban Bangsa- Bangsa
BANGSO BATAK
Apa itu Bangso..? Seperti kebiasaan masyarakat Batak menyebut dirinya “Bangso i”. Mengapa harus Bangso, atau Bangsa, dan oleh siapa..? Apakah memang patut disebut sebuah Bangsa..!??
Di berbagai literatur dengan tegas dijelaskan keriteria kelompok atau komunitas masyarakat yang patut disebut sebuah bangsa ialah kelompok – komunitas masyarakat – yang punya wilayah teritorial sendiri, masyarakat sendiri, kebudayaan maupun peradaban sendiri, aksara dan bahasa sendiri, bahkan kepercayaan dan agama sendiri – yang mendukung keberadaannya sehingga layak disebut sebuah Bangsa – apalagi kala melihat peradabannya yang demikian tua.
Sebagai kelompok atau komunitas masyarakat yang punya budaya dan peradaban sendiri, sama seperti bangsa-bangsa besar lain di berbagai wilayah di permukaan bumi, yang belakangan terancam punah tergerus transformasi budaya beserta perampasan hak-hak atas warisan leluhur maupun wilayah kedaulatannya – oleh kaum pendatang – seperti bangsa Kurdi di Asia Timur, Tibet di Himalaya, Maya, Astek, Inka di benua Amerika, Aborigin dan Maori di Australia, maupun Malanesia, nasib peradaban bangso Batak pun terancam punah – secara berkala – apabila tidak dijaga dan diperdulikan oleh kemunitasnya sendiri.
*****
Beberapa literatur sejarah menegaskan, jauh di masa lampau, sekitar abad XIII-XVI, terdapat sekelompok masyarakat berperadaban tinggi mendiami pesisir timur Sumatera bagian Utara, dijumpai oleh Marcopolo, Wong Tai Yuan, Ma Huan, Patih Gajahmada, Panglima Ceng Ho (Haji Sam Po Bo), maupun Ferdand Mendez Pinto, yakni kelompok masyarakat yang sangat komunal, yang menyebut dirinya masyarakat Dalihan Na Tolu.
Sebagai penghuni tua Austronesia – Nusantara – menurut MK. WKH. YPES, mayarakat Batak disebut juga Proto Melayu (Melayu Tua) – sama seperti suku bangsa Dayak di Kalimantan dan Toraja di Sulawesi. Namun yang menjadi pertanyaan adalah, apakah para astronom, antropolog, arkeolog, filolog, geolog maupun genealog pernah berupaya membuktikan fakta SEJARAH bahwa, penduduk tertua jazirah austronesia itu adalah suku bangsa Batak, Toraja maupun Dayak? Atau mungkin, ini pulalah penyebab mengapa MK. WKH. YPES berpendapat dalam bukunya yang berjudul, BUDRAGE TOT DE KENNIS VAN DE STAM VERWANTSRECHT INHEEMSCHE RACHTSGMEENSCHAPPEN EN GRONDENRECHT DER TOBA EN DAIRIBATAK, bahwa 1000 tahun sebelum masehi masarakat Batak sudah berada di Pulau Sumatera, bermukim di pegunungan yang disebut Bonandolok, Pusuk Buhit, Pulau Samosir. Kedatangan ke sana diduga dari pesisir timur Sumatera bagian utara – Pasai. Sebahagian dari mereka naik ke dataran tinggi, ke tanah Gayo dan Alas, yang kemudian menyebut diri suku bangsa Gayo dan Alas, yang sebagian lagi menetap di pesisir timur Sumatera bagian Utara.
Sementara itu, dalam buku sejarah Indonesia dijelaskan “asal-usul bangsa Indonesia” dari Hindia Belakang, Burma, Siam, Kamboja dan Kocim Cina. Kedatangan ke sana secara bertahap sekitar 1500 tahun sebelum masehi. Kelompok pertama disebut Proto Melayu, yakni suku bangsa Batak, Dayak dan Toraja. Kelompok kedua Deutero Melayu, yaitu suku bangsa Melayu, Sunda, Jawa, Madura, Bugis, Aceh dan lain sebagainya, kira-kira 500 tahun kemudian.
Sedang menurut Dada Meuraxa, suku bangsa Batak itu termasuk kelompok Negrito yang berasal dari Afrika. Datang ke pulau Sumatera dan bermukim di Bonandolok, Pusuk Buhit, yang tidak jauh dari Dairi dan Barus. Adapun Barus kala itu adalah Bandar Tua Bangso Batak – bandar besar tempoe doeloe – yang sangat dikenal di khawasan Nusantara maupun Asia Timur, (harian Waspada, 29 Juni 1962 – Dada Meuraxa).
*** Bandar Barus-Baros (Fansur) yang berposisi di pesisir barat Sumatera bagian utara sudah dikenal sejak dahulu kala sebagai Mata Rantai Jalur Perdagangan Besar yang akrab dengan istilah “Jalur Perdagangan Sutera” (Jalur Sutera) ***
Dan dalam bukunya, “SEJARAH KEBUDAYAAN SUKU-SUKU DI SUMATERA UTARA” Dada Meuraxa menjelaskan kelompok masyarakat pertama yang masuk dan menghuni kepulauan-kepulauan di nusantara diperkirakan sekitar,
1. 1.000 tahun sebelum masehi. Sedang kelompok kedua diperkirakan 500 tahun kemudian, (ini versi Rerrand).
2. Versi VON HEINE GELDERN kira-kira 2.000 tahun sebelum masehi, dan kelompok kedua 1.700 tahun kemudian.
3. Versi DE CASPARIS 10.000 tahun sebelum masehi, sedang kelompok kedua 5.000 tahun kemudian.
4. Versi Prof. H.M. YAMIN sekitar 4.000 tahun yang lalu dan kelompok kedua 2.000 tahun kemudian.
5. Menurut Prof. KERN, gelombang pertama diperkirakan 4000 tahun sebelum masehi, sedang gelombang kedua 2000 tahun kemudian.
6. Sementara teori ALEXANDER RANDA, dalam bukunya yang berjudul “Chescheidinis der Mensheid” jilid I terbitan Nederland tahun 1957 menjelaskan, bangsa NEGRITO berbondong-bondong bermigrasi ke Benua Timur (Asia) lebih kurang 12.000 tahun yang lalu.
7. Hipotesanya, Prof. M.P. RIVET, mengatakan jauh sebelum Hindu, kira-kira 4000 tahun sebelum masehi, pelaut-pelaut Indonesia telah berlayar ke berbagai penjuru dunia, berdagang kapur barus. Makanya kuat dugaan bahwa, 4000 tahun silam bangsa Mesir kuno sudah mengenal suku Bangsa Batak, mengingat jasad Raja Fir’aun diawetkan dengan kapur barus. Demikian pula Ramses II yang meninggal sekitar 1800 tahun sebelum masehi, yang mayatnya juga diawetkan dengan kapur barus, kemungkinan besar telah mengenal suku Bangsa Batak kuno. Disisi lain – sejak zaman dahulu kala – masyarakat Batak kuno pun telah menggunakan kapur barus sebagai bahan pengawet mayat, dimana tradisi menyimpan mayat berlama-lama – selama sekian waktu – dalam proses tersedianya perbekalan maupun perlengkapan dan lain sebagainya – sebagai sarana utama perlengkapan pelaksanaan upacara adat maupun pemakaman – sudah menjadi kebiasaan di suku Bangsa Batak kuno.
Catatan;
Hingga saat ini masyarakat Batak modern pun selalu menunggu berhari-hari proses pemakaman jenazah orang-tua, kakek maupun nenek mereka, terutama bagi mereka yang meninggal Saur Matua. Saur Matua sebagai status bagi mereka yang meninggal apabila seluruh anak laki-laki maupun perempuannya sudah pada menikah. Bahkan adakalanya, menunggu proses acara pelaksanaan adat maupun pemakaman tersebut bisa mencapai satu minggu lamanya. Artinya proses mengawetan akan terjadi. Dan pada zaman dinasti Raja-Raja masa lalu, seperti dinasti Sisingamangaraja misalnya, bilamana seorang Raja – Pemangku Kerajaan – wafat, selalu dibaringkan dahulu selama dua bulan penuh menunggu proses penetapan penggantinya, yang disebut MARARIGONOP (MANGGONOPI) selama 2 bulan, 60 hari atau 8 minggu. Yang artinya, dalam hal tersebut proses pengawetan sudah harus terjadi. Dan pengawetan dimaksud, supaya mayat Raja yang dibaringkan selama enam puluh hari itu bisa awet dan tidak membusuk. Adapun di zaman modern ini, proses pengawetan mayat dilakukan melalui fomalin, yang bahan baku utamanya adalah Kapur Barus (Kamper) beserta Kemenyan.
Analogi singkat :
Apabila pada zaman dahulu-kala masyarakat Batak telah mengenal ilmu pengetahuan – tehnologi – tentang proses pengawetan mayat, apakah tidak ada kemungkinan ilmu pengetahuan tersebut menjadi dasar awal – pedoman dasar – proses pengracikan formalin masa kini..? Sementara sebagian besar para peneliti berhipotesa bahwa, tehnologi pengawetan yang dipunyai Bangso Batak masa lalu adalah pengetahuan bawaan dari peradaban Mesir kuno. Benarkah demikian..?
Sepertinya dalam hal ini terjadi kejanggalan yang sulit diterima akal sehat, dimana harus dilakukan pengkajian ulang demi membuktikan kebenaran yang hakiki (sesungguhnya). Mengapa demikian..?
Bukankah bahan baku utama proses pengawetan terbaik yang pernah ada di muka bumi ini, yang dipergunakan berbagai peradaban kuno pada masa lampau, berasal dari dataran tinggi Toba (Tapanuli) yaitu KAPUR BARUS dan KEMENYAN..? Dan selanjutnya, yang patut pula dipertanyakan ialah, apakah benar di benua Afrika atau tempat-tempat lain – di balahan bumi ini – bahan-bahan tersebut juga ada dan pernah ditemukan..? Seperti pernyataan seorang Profesor bahwa, di Pakistan pun katanya kapur barus ada. Jika pernyataan tersebut benar adanya, maka pertanyaan selanjutnya ialah, kenapa masyarakat Pakistan tidak tahu-menahu atau mengetahui manfaat utama penggunaan barang tersebut – Kapur Barus dan Kemenyan – secara spesifik, selaras dengan ketuan peradaban mereka..? Artinya, kalaulah mereka mempunyai tradisi pengawetan seperti Mesir dan Romawi kuno, bisa jadi hipotesa tersebut diamini secara logika dan faktual. Akan tetapi.., jika tidak..!? Bukankah Profesor itu tadi hanya menduga atau.., mengada-ada semata..!?
Lalu bagaimana dengan Mesir dan Romawi kuno? Mengapa mereka bisa memfomulasikan ramuan yang bahan baku utamanya tidak pernah mereka tahu dan kenal, atau lihat sama sekali – karena memang tidak pernah ada dan tumbuh di daratan mereka sama sekali..? Artinya, dari mana mereka mengetahui proses pengawetan mayat – nge-Mummi – jikalau bahan baku utamanya mereka tidak mengenalnya sama sekali. Apakah mungkin semua itu terjadi begitu saja...!?
Contoh nyata ialah industri-industri besar farmasi dunia. Industri-industri besar farmasi di dunia, seperti industri farmasi Eropa dan Amerika, yang memproduki obat-obatan maupun suplement, sementara bahan baku utamanya didatangkan dari Nusantara, dan sebagian besar berasal dari pulau Sumatera. Bukankah itu kejanggalan yang sangat luar biasa..!? Karena, bagaimana mereka bisa memformulasikan obat-obatan maupun suplement, yang bahan baku utamanya tidak pernah mereka tahu, kenal, atau melihat sama sekali, karena tidak pernah tumbuh di daratan negeri mereka..? Bukankah itu suatu kejanggalan yang sangat luar biasa dan harus ditelaah kembali status kebenarnya..!?
Sementara di dalam Kitab I Raja-Raja fasal 9 ayat 27-28, dan fasal 10 ayat 11-12, Alkitab Perjanjian Lama menjelaskan bahwa, Raja Salomo – Sulaiman – memerintahkan Hiram berangkat ke Ofir (Ophir) untuk mengangkut emas, batu-batu permata, dan kayu cendana, yang mahal harganya.
Yang perlu diketahui dan digarisbawahi dalam hal ini ialah, Ofir (Ophir) yang dimaksud dalam Alkitab Perjanjian Lama itu ternyata letaknya di antara Tapauli Selatan dan Minangkabau, yang dahulu kala dikenal sebagai Gunung Talakmau, atau yang sekarang disebut Gunungtua. Sedangkan masa itu diperkirakan sekitar 1000 tahun sebelum masehi.
Dan yang patut pula dipertanyakan dalam hal ini ialah, untuk apa Raja Salomo (Sulaiman) memerintahkan Hiram mengangkut KAYU CENDANA jauh-jauh dari Ofir..? Apa sesungguhnya manfaat dan fungsi dari kayu cendana itu, selain bahan baku utama pembuatan Langkan – rumah Tuhan – dan Istana Raja maupun gambus dan kecapi..? Apakah karena di dalam ekstrak kayu cendana terdapat kandungan zat yang beraroma sangat harum – wangi-wangian – yang menyerupai aroma minyak Mur..!? Dan mengapa pula disebut minyak Mur..? Bukankah karena yang pertama kali membawa dan memperkenalkan Minyak Mur itu, ke dataran Asia, Afrika, Timur Tengah maupun Eropa adalah Bangsa MOOR (MUR) masa lalu, sehingga namanya disebut Minyak Mur..? Bukankah yang disebut Minyak Mur itu bahan baku utamanya berasal dari ekstrak kayu Cendana..!???
8. Sementara menurut W. Smith, suku Bangsa Batak termasuk suku bangsa tua, berasal dari Austronesia, di sekitar wilayah Madagaskar.
9. Menurut W. Von Humboldt, 1836, Dr. Van der Tuk, 1851 – 1860, maupun H.C. Von der Gabalez, 1854 – 1860, bangsa Batak termasuk Melayu Polinesia.
Literatur-literatur di atas secara jelas, tegas dan gamblang memaparkan keberadaan suku bangsa Batak sebagai suku bangsa yang berkebudayaan dan peradaban tua, yang hingga kini masih dapat dirasakan jejak ketuaan akar peradabannya. Apakah hal tersebut masih harus dipertanyakan..?? Maka dari itu sangatlah disayangkan apabila mereka-mereka yang merasa.., atau yang mengaku-ngaku Sejarawan, Budayawan, Antropolog, Arkeolog, Sosiolog, maupun para Cendikiawan, masih terus mengatakan migrasi pertama suku Bangsa Batak berasal dari Mongol, India Selatan, Tiongkok Utara, Indo Cina dan seterusnya ke Pulau Sumatera – sesuai dengan selera penelitian mereka – sekitar abad ke XII-an. Bukankan perlu dikoreksi ulang kebenaran teori – tesis – tesebut..!?
Apakah mereka-mereka – para ahli tersebut – tidak pernah mengetahui keberadaan literatur-literatur seperti di atas..? Mustahil..! Sangatlah mustahil..!! Karena hal tersebut adalah bagian dari bidang dan pengetahuan akademis mereka. Tetapi mengapa mereka tidak mau mengatakan yang sebenarnya..? Apa sebabnya..? Dan mengapa mereka tidak mau berbicara jujur..? Apakah ada yang membebani.., atau.., menghalangi mereka untuk tidak mau mengatakan yang sebenarnya – kebenaran..!?
Memang acap-kali terjadi penyesatan sejarah di Republik ini, dan cilakanya acap-kali pula mendapat toleransi dari mereka-mereka – para cendikiawan dan para akademisi – yang berkompoten terhadap hal tersebut. Contoh paling dekat di hadapan kita ialah, raib-nya Teks Supersemar. Demikian pula dengan hilangnya Dokumen Hamparan Perak dari Balai Pustaka Pemko Medan. Kemana perginya dokumen-dokumen tersebut..? Bukankah dokumen-dokumen tersebut dokumen penting sebuah Negara, dokumen Bangsa, dan dokumen PERADABAN sebuah suku bangsa..? Mengapa sampai hilang.., atau bisa hilang..? Atau.., memang sengaja dihilangkan..!? Dan kemana perginya para ahli itu tadi..? Mengapa diam berribu bahasa. Takut ya..!? Takut kehilangan status, jabatan atau apa sajalah, bila mengatakan yang sebenarnya..? Begitu bobroknyakah mental-moral para cendikiawan kita – para cendikiawan bangsa ini – sehingga tidak mau dan berani mengemukakan kebenaran..? Jikalau para ilmuwan maupun cendikiawan sudah bersikap demikian – tidak mau bicara jujur – bagaimana dengan para pembohong lainnya..? Luar biasa bukan..!?
*****
Dalam buku “Ilmu Ragam Bangsa” karya, Ermad Husein, guru Taman Madia Medan, pada bagian II mengatakan, suku bangsa yang mendiami Indonesia sebelum kedatangan Melayu terdiri dari ;
1. Bangsa NEGRITO, terdiri dari orang SEMANG, di Malaka, dan orang AETA, di Philipina.
2. Bangsa WEDDA, yang terdiri dari orang KUBU, MAMAK, TOMALA, TOKEA, dan TOMUNA, di Sulawesi.
Adapun WONG TAI YUAN dalam bukunya yang berjudul “TAO Iche LIO,” menuliskan kisah perjalanannya ke Sumatera bagian utara, 1349, nama-nama negeri yang terkenal pada masa itu adalah negeri Batak, Lambri dan Samudra – yang kemudian lebih dikenal sebagai Samudra Pasai. Hal tersebut diperkuat buku sejarah “Gajah Mada” yang ditulis, Mr. M. Yamin, halaman 22-23.
Di buku tersebut Mr. M. Yamin menjelaskan betapa marahnya Patih Gajah Mada melihat pasukannya berulang-kali gagal menundukkan kerajaan Haru yang dipimpin Tuan Sori Mangaraja, sampai-sampai bersumpah ”tidak akan makan buah kelapa lagi jika tidak bisa menaklukkan kerajaan Haru” tahun 1331–1364. Data-data tentang invasi Mojopahit ke Kerajaan Haru (1331-1364) sangat cocok dengan masa pengungsian awal (awal pengisolasian-diri dinasti Tuan Sorimangaraja) ke dataran tinggi Toba, yang kemudian berpusat di Balige Raja, tahun 1365.
Dipertegas lagi tentang keberadaan kerajaan Batak masa itu; tetapi adalah terang suatu kerajaan Batak di bawah kekuasaan “dinasti Tuan Sori Mangaraja” (Hindu Mahayana) yang dulunya terletak di sebelah teluk Aru atau Muara Sungai Wampu, Langkat, yang bertetanggaan dengan kerajaan Batak Animis Tamiang – Aceh Tamiang.
Penjelasan-penjelasan di atas seperti menyiratkan kalau kerajaan Haru yang dimaksud adalah kerajaan Batak Tua masa lalu, yang peradabannya sangat tua. Benarkah demikian..?
Buku “Hang Tuah” cetakan ke III, keluaran Balai Pustaka Jakarta, tahun 1956, menyinggung cerita ke 27 Sejarah Melayu. Buku itu menceritakan; Berawal dari tersesatnya Puteri Gunung Lidang di hutan belantara, dekat negeri Batak, lalu diambil oleh menteri Batak dan dirajakan sebagai puteri raja di negeri Batak.
Buku tersebut sebenarnya bermaksud menjelaskan posisi geografis negeri Batak dimaksud yaitu, terletak di pesisir timur hulu negeri Malaka. Bukan di pegunungan atau pedalaman seperti bayangan kebanyakan orang selama ini. Karena, manalah mungkin seorang perempuan muda tersesat sampai ke dataran tinggi Toba, sedangkan akses ke sana di masa itu sama sekali tidak ada – kecuali menyeberangi Danau.
*** pengertian dirajakan dalam konteks ini kemungkinan besar diperistri. Karena apabila putra Batak memperistri seorang perempuan yang berasal dari suku bangsa lain, secara otomatis perempuan tersebut disebut sebagai putri raja (dirajahon sebagai boru ni Raja). ***
Kamus Van der Tuuk adalah kamus bahasa Batak Tua Belanda, di Malaya, menjelaskan hubungan suku bangsa Batak dengan Melayu, di Semenanjung Malaka, sudah terjalin lama dan sangat baik. Hal tersebut dibuktikan melalui perbendaharaan kata di dalam tata bahasa Melayu tua yang banyak sekali terdapat unsur kata-kata dari bahasa Batak Toba Tua. Artinya bahasa Batak Toba Tua banyak sekali mempengaruhi bahasa Melayu asli. Ratusan jenis unsur kata dari bahasa Batak Toba Tua sama persis dengan kata-kata yang ada dalam bahasa Melayu. Sementara bahasa Batak Toba Tua tidak pernah bercampur atau dipengaruhi bahasa lain, seperti Cina, Arab, Persia, Sansekerta, Portugis, Belanda, dll.
Contoh: Tuan = tuan. Habut = kabut, Bulan = bulan, Balut = balut, Sapot = sepat, Holat = kelat, Tambun = tambun, Serip = serip, Lumpu = lumpuh, Disir = desir, Sale = selai, Bale = balai, Tanjung = tanjung, Anjur = anjur, Agong = agung, Datu = datok, Topi = tepi, Somba = sembah, dan lain sebagainya.
Siapakah yang meminjam dalam hal ini..? Menurut Van der Tuuk, bahasa Melayulah yang meminjam – bukan bahasa Batak. Sebab jika diteliti lebih jauh, perbendaharaan kata-kata dalam bahasa Batak Toba Tua jauh lebih kaya dan lengkap dibanding bahasa Melayu asli. Dimana bahasa Batak Toba Tua dapat dipergunakan sebagai alih bahasa tanpa harus meminjam unsur kata lain dari bahasa asing. Ini terbukti dari sistem penulisan Alkitab HKBP yang menggunakan bahasa Batak Toba Tua asli – tidak seperti bahasa Melayu. Bahasa Melayu banyak sekali meminjam istilah dan kata-kata dari bahasa asing, seperti Arab, Persia maupun Sansekerta.
Sementara perbendaharaan kata dalam bahasa Batak Toba Tua masih lebih kaya dan lengkap dibanding dengan bahasa Indonesia sekalipun, dimana bahasa Batak begitu kaya termasuk dalam penempatan istilah.
Banyak sekali istilah-istilah dalam bahasa Batak tidak terdapat di bahasa Indonesia, dimana pengertian aslinya hampir tidak sesuai dengan kata-kata atau istilah yang ada di dalam bahasa Indonesia. Misalnya kata muit-uit atau miul-iul. Pengertian kata atau istilah di atas, adalah goyang. Tetapi penempatan kata muit-uit hanya diperuntukkan bagi benda-benda kecil yang bergoyang. Jika benda besar yang bergoyang kata-kata tersebut tidak berlaku lagi.
Contoh; Jika dalam bahasa Indonesia penggunaan istilah goyang disamakan untuk semua bentuk benda, yang besar maupun kecil, misalnya; daun kelapa itu ber-goyang-goyang karena tertiup angin. Dalam hal ini kata-kata goyang selalu dipergunakan, meski ada istilah lain seperti melambai (nyiur melambai). Sementara istilah melambai-lambai ini tidak selalu dipergunakan untuk kejadian tersebut, malah lebih banyak dipergunakan untuk gerakan tangan, yaitu melambaikan tangan.
Coba dibandingkan dengan; gigi pak Dullah goyang (untuk benda kecil yang bergoyang). Dalam hal ini kata goyang tetap dipergunakan untuk benda kecil. Artinya, di dalam bahasa Indonesia istilah atau kata-kata goyang tetap dipergunakan untuk benda-benda yang besar maupun kecil.
Sementara di dalam bahasa Batak terjadi pembedaan yang sangat kontras, dimana benda-benda yang terurai seperti daun kelapa, bambu, pisang dan lain sebagainya, apabila bergoyang, yang ditempatkan adalah istilah atau kata-kata “dumaol-aol”. Untuk pohon kayu besar (dahan yang bergoyang) digunakan istilah “humutur”. Sedang istilah “muit-uit” tadi hanya dipakai untuk gigi yang goyang kecil. Tapi apabila goyangnya lebih besar, istilah yang digunakan justru “miul-iul.”
Selanjutnya kata Patimpus (Timpus). Di dalam penggunaannya kata-kata Patimpus selalu diperuntukkan sebagai kata pengikat, meski ada kata atau istilah lain seperti Gomos. Patimpus (timpus bahen pangarahut na da), yang artinya kuat bikin pengikatnya ya. Mengapa tidak pernah dikatakan gomos bahen pangarahut na. Melainkan gomos tiop tangan na (kuat atau erat pegang tangannya). Artinya, sekalipun pengertian dasar kedua kata cendrung sama, namun penggunaannya tidak harus sama. Dan kata-kata Patimpus arti dasarnya ialah Merangkum, Memperkuat, Mempererat atau Memperketat sesuatu dalam bentuk ikatan. Maka dari itu, istilah-istilah di atas penggunaannya selalu disesuaikan dengan sifat dan kebutuhan atau sifat kegiatan seseorang dan lain sebagainya.
Menurut A.H. Keane, Bahasa Melayu asli sebenarnya percampuran antara bahasa Kaukasus dan Mongol. Bangsa Kaukasus, yang berkulit keputih-putihan adalah bangsa pertama yang menduduki Indo Cina – Asia Tenggara – kemudian terdesak oleh bangsa Mongol yang berkulit kekuningan, meskipun pada akhirnya kedua bangsa tersebut berasimilasi secara alami.
Adapun daerah-daerah yang pertama diduduki bangsa Kaukasus adalah Burma, Khasi, Shan, Siam, Annam, Kamboja, Campa, Kui, Menos, dan Penong, (A.H. Keane; adalah antropolog budaya yang melakukan penelitian khusus tentang Indo Cina dan Austronesia).
Masih menurut, A.H. Keane; Jazirah Melayu dan Polinesia semula diduduki bangsa kulit hitam dari Afrika. Di sebelah barat dihuni bangsa Negrito, dan timur bangsa Papua. Dan yang di timur terdesak oleh bangsa Kaukasus dan Mongol yang datang dari Asia Tenggara. Percampuran bangsa Kaukasus, Mongol dan Papua ini, melahirkan bangsa Alfuros yang tinggal di pulau Seram, Timor Jailolo dan Misol, dan di sebelah barat kepulauan Irian, melahirkan bangsa Melanesia, Hibriden Baru, Salomon, Kaledonia dan Fiji.
Adapun tempat-tempat yang pernah dikuasai bangsa Kaukasus di jazirah Melayu adalah, Nias, Tapanuli, Lampung, Pasemah, Kalimantan Tengah, Sulawesi dan Poru. Tegasnya, percampuran dua bangsa dan dua bahasa dari dua ras besar tersebut – Kaukasus dan Mongol – diyakini menjadi cikal-bakal lahirnya Bangsa Melayu berikut Bahasanya.
Para ahli bahasa Indonesia pun sepakat mengatakan jika bahasa Indonesia itu rumpunnya bahasa Melayu. Sedang bahasa Melayu berasal dari bahasa Melayu Polinesia atau Austronesia, yang masih berkeluarga dengan bahasa Austro-Asia.
*** Mengapa di sini tidak disebutkan negeri Batak yang ditahlukkan bangsa Kaukasus, melainkan Tapanuli? Mungkin dikarenakan wilayah kekuasaan kerajaan Batak Tua masa lalu, di pesisir timur Sumatera bagian utara, yang struktur kata dan tata bahasanya sangat kuat dan eka-suku itu mulai runtuh sejak abad XVI..? Atau.., bisa jadi dikarenakan struktur tata bahasa “Batak Tapanuli” memang sudah dipengaruhi bahasa Sansekerta, Arab maupun Persia, menjadi dwi-suku bahasa, penyebab dilampirkannya Tapanuli sebagai wilayah taklukan bangsa Kaukasus, bukan Batak? Atau karena penulisan sejarah tentang ini datangnya kemudian sehingga tidak lagi membedakan antara Tapanuli dengan Batak.
Yang pasti, orang Batak tidak akan pernah mengatakan dirinya Suku atau Bangso Tapanuli, karena istilah Tapanuli datangnya kemudian, yakni asal kata dari “Tapian Na Uli”
Dan istilah Tapanuli sengaja dikampanyekan Belanda beserta kroninya untuk tujuan pecah-belah. Sebab, apabila Tapanuli dikatakan Batak, yang paling keberatan adalah orang Karo, Pak-pak Dairi dan Simalungun, karena mereka ini tidak berada (termasuk) di wilayah tersebut. Ini adalah konsep pecah-belah Belanda untuk memperlemah kekuatan Batak supaya tidak bersatu.
Ketuaan bahasa dan aksara dapat menunjukkan asal-usul bahkan ketuaan sebuah bangsa, meski tidak selamanya mutlak, (Van der Tuuk). Artinya, melalui literatur-literatur di atas sudah sepatutnyalah suku bangsa Batak disebut sebuah Bangsa (Bangso) – seperti kebiasaan masyarakat Batak menyebut dirinya Bangso (Bangso i) – bilamana melihat akar budaya dan peradabannya yang begitu tua dan mandiri.
***
M. SAID, pimpinan redaksi harian Waspada, Medan, menuliskan dalam bukunya tentang ketokohan Sisingamangaraja sebagai simbol pemersatu masyarakat Batak. Di dalam bukunya yang berjudul “ACEH SEPANJANG ABAD,” yang sebagian besar bahannya disitir dari buku “The VOYAGE of PINTO,” tulisan FERNAND MENDEZ PINTO, menggambarkan situasi perang antara kerajaan Batak dengan Aceh, yang dikenal sebagai perang Batak Timur Raya. Di saat peperangan sedang berkecamuk, dijelaskan tentang keberangkatan utusan kerajaan Batak ke Malaka menjumpai pucuk pimpinan pemerintahan Portugis, dalam rangka minta bala-bantuan, meski tak dijelaskan secara rinci bentuk bantuan apa yang dikehendaki, namun selanjutnya diceritakan bahwa kerajaan Batak memenangkan perang dan kerajaan Aceh harus membayar 250 ringgit Portugis sebagai syarat perdamaian. Bahkan kemudian berlanjut dengan pernikahan antara putra Raja Batak dengan putri Raja Aceh.
Tetapi perdamaian tersebut tidak berlangsung lama karena dua setengah bulan setelah itu, begitu kerajaan Aceh mendapat bala-bantuan dari Turki – beberapa orang panglima dan 3000 prajurit – kerajaan Aceh melakukan penyerangan kembali. Dalam peperangan tersebut dijelaskan kerajaan Aceh berhasil membunuh 4 orang anak dari Raja Batak. Dan peperangan tersebut benar-benar sengit dan merata, membuat kerajaan Batak terdesak hebat sehingga mengirim kembali utusannya ke Malaka. Namun 17 hari berselang utusan tersebut kembali dengan tangan hampa.
Yang menarik untuk diperhatikan ialah, sekian waktu berselang – setelah utusan tersebut kembali – fihak Portugis balik mengirimkan utusannya ke pusat kerajaan Batak, di pesisir timur Sumatra Utara. Utusan tersebut bernama Fernand Mendez Pinto. Maksud dari kunjungan tersebut untuk memberi penjelasan mengapa fihak Portugis tidak dapat mengirim bantuan seperti sebelumnya. Adapun alasan-alasan yang terkait dengan itu hingga saat ini tidak pernah diketahui. Sedangkan peperangan tersebut terjadi pada masa Sultan ALAEDIN AL KAHHAR sebagai raja, di tahun 1539. Dan peperangan dimenangkan kerajaan Aceh, (buku Aceh Sepanjang Abad, halaman 103).
Selanjutnya yang patut juga dicermati, sejauh mana sebenarnya hubungan kerajaan Batak dimaksud, dengan pemerintah Portugis yang pada masa itu menguasai Malaka, dimana pada saat tertentu Pusat Pemerintahan Portugis malah mengirimkan kembali utusannya ke kerajaan Batak dengan maksud memberitahukan alasan-alasan mengapa pemerintahan Portugis tidak lagi dapat memberi bala-bantuan seperti sebelumnya sehingga mengakibatkan kehancuran dan kekalahan total bagi kerajaan Batak, tahun 1539. Dan sejak kapan pula hubungan tersebut terbangun – apa latar-belakangnya – dan untuk kepentingan apa..? Tidak ada penjelasan tentang hal itu.
Karena jauh sebelumnya, tahun 1524, paska runtuhnya benteng Portugis di Aceh, tatkala pasukan Aceh mengejar pasukan Portugis hingga memasuki wilayah kerajaan HARU, tentara Portugis dan pasukan kerajaan Haru bahu-membahu melakukan perlawanan, (F.M.Pinto).
Kemudian yang menjadi pertanyaan utama ialah, apakah kerajaan Batak yang dimaksudkan dalam literatur tersebut adalah kerajaan Haru, atau sebaliknya.., apakah kerajaan Haru itu adalah kerajaan Batak..?
Benarkah kerajaan Batak itu kerajaan Haru?
Masih sulit dipastikan bahwa kerajaan Batak yang dimaksud dalam literatur di atas adalah kerajaan Haru – yang nasibnya seperti raib ditelan bumi sejarah Indonesia. Mengapa demikian..? Apakah karena hilangnya berbagai mata rantai sejarah, yang terkait dengan itu, sehingga tidak perlu dituliskan lagi atau.., tidak pernah dituliskan sama sekali..? Atau.., memang sengaja dihilangkan..? Karena jika bicara tentang kerajaan Haru rasanya seperti membicarakan dongeng saja. Seperti dongeng yang disejarahkan oleh kelompok tertentu, dan untuk tujuan tertentu pula. Mengapa harus demikian? Apakah untuk menutupi sesuatu..? Misalnya sesuatu yang terkait dengan keberadaan kerajaan tersebut – kerajaan Haru yang kesannya seperti dongeng itu – termasuk asal-usul dan lain sebagainya..?
Dan yang lebih mencengangkan lagi ialah, kerajaan-kerajaan yang pernah berperang dengan Kerajaan Haru, seperti Samudra Pasai dan Mojopahit, masih tertera jelas di dalam sejarah Indonesia, dan terlampir dalam buku-buku sejarah yang ada. Sementara kerajaan Haru yang seperti dongeng dan mendekati raib dari permukaan persejarahan Indonesia dan sulit dilacak kebenarannya itu, karena berbagai dokumen maupun mata rantai sejarah yang terkait dengan keberadaan kerajaan tersebut raib begitu saja, menjadi pertanyaan besar hingga saat ini.
Apakah bangsa ini memang tidak perduli lagi terhadap kebenaran sejarah dan peradaban Bangsanya? Bukankah Bangsa Besar adalah Bangsa yang menghormati sejarah, peradaban, maupun jasa-jasa para pahlawannya..!?
Sebaliknya, sulit pula dibantah kalau kerajaan Haru yang dimaksud dalam literatur-literatur di atas bukanlah kerajaan Batak – pecahan dari Kerajaan Timur Raya (Kerajaan Batak Timur Raya masa lalu) yang pernah ada.
Di manakah sesungguhnya letak kerajaan Haru (Aru) itu?
1. Menurut legenda masyarakat Karo dan Simalungun letak kerajaan Haru di tepi Sungai Wampu, Besitang, Langkat.
2. Menurut Schadee, dalam bukunya, Geschiedenis Van Sumatera Ostkust, letak kerajaan Haru di Teluk Aru, Besitang. Dimana luas wilayahnya mulai dari Besitang hingga Sungai Rokan (hampir sama dengan Keresidenan Sumatera Timur masa lalu).
3. Menurut buku Marsden, History of Sumatera, posisi kerajaan Haru di tepi sungai Arakan (Arakan sama dengan Aru).
4. Menurut Gruneveld dalam bukunya yang berjudul, Historycal Notes on Indonesia and Malasya, menjelaskan pusat kerajaan Haru dimaksud terletak di posisi tiga hari pelayaran dari Malaya. Rajanya ketika itu Sultan Husin, 1411. Sultan Husin inilah yang pernah mengirimkan utusan ke Tiongkok, yang berlanjut dengan kunjungan balik Panglima Ceng Ho ke kerajaan Haru, tahun 1412.
5. Sementara menurut Kesultanan Deli, Kesultanan Haru terletak di Deli Tua.
6. Sedang analis Tiongkok (di masa dinasty Ming) mengatakan letak kerajaan Haru itu berada di tepi sungai Barumun (Sei Bila). Sama seperti legenda Padang Lawas dimana mengatakan kerajaan Haru terletak di Padang Lawas, di tepi sungai Barumun, Sumatra Timur.
Prapanca dalam bukunya Negara Kertagama menjelaskan kerajaan Haru sangat kokoh dan kuat. Penjelasan tersebut didukung keberadaan benteng batu tua setinggi 30 kaki, di Deli Tua, yang hingga penulisan ini dilakukan masih ada. Di sisi lain Panglima Ceng Ho mengatakan sultan yang berkuasa di kerajaan Haru pada masa itu adalah Sultan Husin (Solotan Hu-sing), tahun 1412.
Adapun keterangan Mendex Pinto dalam catatannya, tahun 1539, kerajaan Haru itu sebenarnya adalah Kerajaan TIMUR RAYA, yaitu Kerajaan Batak Raya di Sumatera Timur, pada abad XV. Keterangan tersebut diperkuat lagi oleh Pinto bahwa; pada masa itu pasukan kerajaan Aceh mengejar tentara Portugis hingga memasuki wilayah Haru yang mengakibatkan peperangan hebat terjadi, pada tahun 1524.
Pada perang 1539, kerajaan Haru kalah dan tunduk pada kerajaan Aceh, di bawah pimpinan Sultan Al Kahhar. Namun atas bantuan JOHOR, di tahun 1540, kerajaan Haru merdeka kembali hingga tahun 1564.
Para pengamat sejarah asing menjelaskan bahwa, sebelum masuknya Islam dan menguasai Samudra Pasai – pra abad ke XIII – wilayah kerajaan Batak sangatlah luas. Mulai dari teluk Aru (Haru), berbatasan dengan Aceh Timur hingga sungai Kampar, Riau, kemudian berbatasan dengan Jambi. Di timur selat Malaka. Di sebelah barat, mulai dari Ajerbangis, yang bersebelahan dengan Minangkabau, Singkil, dan Aceh.
Yang menjadi pertanyaan utamanya ialah, benarkah kerajaan Batak yang dimaksud dalam literatur di atas bukanlah kerajaan Haru? Memang terlalu sulit membedakan mana sebenarnya kerajaan Batak dan mana kerajaan Haru.
Kemudian yang lebih membingungkan lagi, kenapa masyarakat Batak Toba tidak memiliki legenda tentang Kerajaan Haru sama sekali? Apakah orang Batak Toba merasa tidak punya keterkaitan dengan Kerajaan tersebut..? Mengapa Batak Karo dan Batak Simalungun punya..? Apakah era-nya masyarakat Batak Toba, ke Karo dan Simalungun, tidak sama..? Mengapa bisa demikian..??
Diperkuat lagi oleh Buku Sejarah Indonesia dan “Buku Sejarah Melayu” bagian ke tujuh, yang menceritakan awal masuknya Islam ke Indonesia, yang dibawa oleh Nachoda Syech Ismael, melalui Andalas Utara, tahun 1292, yang kemudian mendirikan kerajaan Islam pertama di Nusantara yang bernama SAMUDRA PASAI – berpusat di Perlak, Aceh Tamiang.
Lalu diceritakan pula, sebelum menetap di Perlak, Aceh Tamiang, Nachoda Syech Ismael telah melintasi beberapa daerah termasuk Fansur (Barus), Lamuri (Aceh), dan kemudian berkunjung ke kerajaan Haru (Aru).
Di Perlak Nachoda Syech Ismael bertemu Merah Tjaga dan adiknya Merah Silu (merah dalam bahasa Gayo artinya Raja). Setelah di-Islamkan Merah Silu merubah nama menjadi MALICUL SALEH, Sultan pertama di Kerajaan Islam, Samudra Pasai, yang wafat tahun 1297. Dan sejak saat itu terjadilah peperangan demi peperangan antara Samudra Pasai dengan kerajaan Haru, maupun daerah lain yang masih berfaham animis, (Aceh Sepanjang Abad). Buku ini secara tegas mengidentifikasikan kerajaan Haru yang dimaksud dalam kisah itu adalah kerajaan Batak Timur Raya masa lalu.
Dalam Buku Sejarah Melayu yang XXIV, karya Abdullah, menjelaskan bahwa, peperangan antara Samudra Pasai dengan kerajaan Haru terus berkecamuk, yang kemudian melibatkan Malaka. Kemudian buku ini pun menyebutkan nama raja-raja yang pernah ada di kerajaan Haru, antara lain, Maharadja Diradja anak Sultan Shujak yang turun dari Batu Hilir di kota Hulu, Batu Hulu di kota Hilir, beserta nama-nama tokoh yang identik dengan tokoh-tokoh besar yang pernah ada di tanah Batak, seperti Sariburaja, Tuan Sori Mangaraja, Singamangaraja, maupun nama raja-raja yang sudah menjadi Islam.
Pustaha Batak
Sesuai terjemahan isi buku “Pustaha Batak” mengenai hikayat Tarombo Keluarga Besar Siraja Batak, yang terlampir dalam Pustaha Taringot tu Tarombo Bangso Batak, diuraikan sebagai berikut...;
Surat Batak nunga adong di sundut ni Siraja Batak, ai ibana do na pasahathon sabalunan surat agong bagian ni anakna Guru Tateabulan, jala sada surat tumbaga holing di anakna Siraja Isumbaon.
Dibalunan na parjolo tarsurat do Hadatuon, Hagebuon, Parmonsahon dohot Pangaliluon. Di balunan na paduahon Ruhut-ruhut ni Harajaon, Paruhumon, Parhaumaon, Partigatigaon, dohot Paningaon.
Terjemahan; Surat Batak sudah ada di generasi Siraja Batak, karena dia sendirilah yang menyerahkan segulungan (sabalunan) surat Surat Agung (agong) bagian dari putranya Guru Tateabulan dan segulungan lagi Surat Tumbaga Holing, bagian putranya Siraja Isumbaon. Di gulungan pertama bertuliskan ilmu-ilmu tentang Kedatuan (Datu = tempat bertanya, bukan perdukunan), Keperwiraan (siasat strategi peperangan dll), Kependekaran (monsak – pencak silat) dan Kesaktian (mistik atau kegaiban).
*** Datu adalah sebuah gelar. Yaitu gelar yang didapatkan melalui proses belajar atau pendidikan. Gelar Datu diberikan oleh lembaga adat ***
Di gulungan kedua mengenai ajaran, tentang Kerajaan (Ketataprajaan atau Sistem Pemerintahan), Sistem Hukum dan Peradilan, Sistem Pertanian, Perniagaan, Kesenian (karya seni - cipta) dll.
Literatur terjemahan ini secara tegas menandaskan kalau Pustaha Siraja Batak adalah produk generasi sebelumnya, yaitu sebelum keberadaan Siraja Batak di Pusuk Buhit (Dataran Tinggi Toba). Yang artinya, jikalah benar sebelum keberadaan Siraja Batak di Pusuk Buhit, dan sebelum surat Tarombo Keluarga Besar Siraja Batak diserahkan kepada Siraja Batak oleh..? Oleh siapa..? Siapa pemegang sebelumnya..? Atau dari siapa Pustaha tersebut diterima..? Di mana posisi – tempat dan kedudukan – si Pemberi..!? Apakah dari pusat kerajaan Batak Timur Raya yang pernah ada (di Perlak, Aceh Tamiang), seperti dugaan segelintir orang, atau.., dari pusat kerajaan Haru yang terletak di sekitar teluk Aru, Sungai Wampu, Langkat, atau dari kerajaan Haru yang berada di Deli Tua atau.., dari tempat lain..!??
Maka tidaklah mengherankan apabila masyarakat Batak generasi sekarang bersikukuh mempertahankan dan meyakini Bonandolok Pusuk Buhit adalah Bonapasohitnya, atau tempat asal-muasal leluhur mereka. Mengapa demikian..? Apa yang menjadi penyebab..? Apakah adanya kemungkinan-kemungkinan penyebab yang seharusnya dijadikan pertimbangan, seperti hilangnya berbagai mata rantai sejarah yang terkait dengan itu, sehingga memberi kesempatan pihak lain berspekulasi membuat sejarah baru yang akhirnya menjadi simpang-siur dan cendrung menyesatkan..? Misalnya melalui proses mitologi dan seterusnya, yang kemudian menjadi sejarah baru, dan disejarahkan dengan pembenaran sejarah..!??
Mitologi:
Jika ditilik dari Silsilah – Tarombo Siraja Batak – yang sarat unsur mitologi atau legenda itu, dengan tegas dapat dipastikan, baru berapa generasilah kira-kira orang Batak hingga saat ini. Yakni tidak lebih dari 30 generasi. Jika tiap generasi diperhitungkan 30 tahun maka dapat dipastikan usia orang Batak tidak lebih dari 900 tahun. Benarkah demikian..?
Sudah pasti bertolak-belakang dengan fakta sejarah.
Artinya, orang-orang Batak yang mengaku diri sebagai suku bangsa tua dan berperadaban tinggi itu, jika hanya mengedepankan Tarombo Siraja Batak semata – sebagai landasan utama sejarahnya – yang ternyata pada kenyataannya hanyalah suku bangsa muda, bahkan yang termuda di antara suku-suku bangsa yang ada di khawasan Nusantara, benarkah demikian..?
Dan lagi-lagi bertentangan dengan fakta sejarah.
Di sisi lain, fakta sejarah dan kenyataannya dengan tegas menggambarkan betapa tuanya kultur masyarakat bangso Batak Toba Tua masa lalu. Namun cilakanya orang Batak sendiri seperti tidak menyadari itu, atau cendrung mengabaikannya. Justru lebih mengedepankan sejarah yang berlandaskan pesan atau turi-turian itu tadi – mitologi secara turun-temurun – sebagai landasan utama sejarahnya. Mengapa demikian..? Bisa jadi dikarenakan begitu banyaknya kitab dan naskah-naskah (pustaha-pustaha kuno) bangso Batak diambil paksa oleh Belanda dan dibawa ke Eropa, sehinga kehilangan bahan sebagai landasan utama dalam penuturan sejarahnya, yang akhirnya muncullah versi baru dalam berbagai bentuk kejanggalan, dalam tata-cara penuturan sejarah orang Batak Toba masa kini – secara internal – sehingga sulit dilogikakan.
Adapun kejanggalan-kejanggalan yang harus dipertanyakan selanjutnya ialah, apakah mungkin kelompok masyarakat yang telah memiliki “aksara tua” dan ilmu pengetahuan purba seperti “astronomi” (ilmu pengetahuan perbintangan purba), sistem pemerintahan sendiri, tatanan sosial seperti Dalihan na Tolu, kepercayaan (agama sendiri) dan lain sebagainya, baru berusia 900 tahun..?
Seperti penjelasan-penjelasan di bagian depan bahwa, sebelum abad ke XIII suku bangsa Batak, di pesisir Sumatera bagian utara, sudah dikenal sebagai suku bangsa besar, (F.M. Pinto). Data-data dan alur sejarah lain yang terkait dengan itu sangatlah tegas dan jelas menyatakan bahwa suku bangsa Batak adalah suku bangsa besar pada jamannya. Artinya, apakah mungkin usia suku bangsa Batak yang sebelum abad XIII sudah dinyatakan sebagai suku bangsa besar, oleh F.M. Pinto, dan lain sebagainya, baru berusia 900 tahun..? Semakin sulit dilogikakan..!
Kemudian yang patut pula dipertanyakan ialah, siapakah sesungguhnya Siraja Batak itu..? Apakah sebutan Siraja Batak adalah sebuah panggilan untuk sebuah Nama, Gelar atau Predikat..? Dari mana asal-muasalnya, dan sejak kapan bermukim di Bonandolok, Pusuk Buhit..? Jika itu memang sebuah nama, mengapa tidak ditabalkan sebagai nama atau marga pada keturunannya – sebagaimana kebiasaan umum orang Batak menabalkan nama leluhurnya pada generasi selanjutnya – sebagai sebuah marga atau identitas..? Apakah benar Siraja Batak itu adalah cicit buyut dari Ompu Si Raja Odap-Odap dengan Boru Deakparujar, yang konon katanya bidadari dari khayangan..?
Atau.., apakah tidak tertutup kemungkinan kalau Ompung Siraja Batak itu ditinggal orang tuanya – semasa kecil – di Pusuk Buhit, sehingga tidak mengetahui lagi dari mana asal-usulnya, dan kemudian membuat sejarah baru dari tempat itu atau.., kemungkinan lain..? Apakah tidak mustahil kalau Ompung Siraja Batak itu adalah Pimpinan kelompok pengungsi dari daerah tertentu, yang kemudian membuka perkampungan baru di dataran tinggi Toba – Bonandolok Pusuk Buhit – dan mendirikan kerajaan baru di sana..? Kalau benar demikian tentu ada tempat asalnya. Di mana..? Dari mana asalnya datang ke tempat itu..??
Apabila masyarakat Batak terus berkutat mengatakan Dataran Tinggi Toba (Bonandolok Pusuk Buhit) adalah tempat asal-muasal dan tanah leluhur – bonapasogitnya – bangso Batak, sudah pasti mengandung kelemahan yang sangat fatal. Karena beberapa peneliti, terutama para arkeolog, merasa putus asa dan hampir memastikan Dataran Tinggi Toba bukanlah tempat asal-muasal suku bangsa Batak yang berperadaban sangat tua. Hal tersebut diperkuat oleh, belum seorang arkeolog pun pernah menemukan situs tua, fosil atau fragmen tulang-belulang manusia purba, gerabah, artefak, pisau, kapak dan lain sebagainya, yang mendukung pernah-tidaknya keberadaan aktifitas masyarakat masa lalu pernah bermukim di tempat itu. Kalaupun ada situs yang ditemukan, usianya hanya terhitung ratusan tahun saja. Bukankah itu sebuah fakta..!?
Artinya, jikalah benar sejak ribuan tahun lalu orang Batak sudah bermukim di tempat itu – seperti ocehan para pakar, ilmuwan, dan penulis-penulis sejarah yang terkait dengan itu – pastilah pernah ada ditemukan situs atau fosil manusia purba seperti yang ditemukan di Loyang Mendale, Takengon, Aceh Tengah, sekian tahun lalu. Mengapa demikian..? Lagi-lagi tanda tanya besar.
Contoh, beberapa hipotesa menyatakan suku bangsa Batak berasal dari Burma, Siam atau Kamboja. Dan sebagai Proto Melayu, suku bangsa Batak, Karen, Igorot, Toraja, Meo, Bontok, Tawal, Dayak dan Bajo, sudah terbiasa bermukim di dataran tinggi, pegunungan, maupun pedalaman. Barang kali, karena terjadi sesuatu atas suku bangsa Batak, dari Burma, Siam atau Kamboja, mereka turun ke laut dan berlayar ke ujung Utara Sumatera, menjelajahi Pulau Panai, Singkel, Barus, Sorkam, Pandan dan lain sebagainya, kemudian naik ke dataran tinggi Toba dan bermukim di sana. Dan sebahagian lagi, yang mendarat di Singkel, pergi menuju dataran tinggi lain dan bermukim di sana. Mereka-mereka itulah yang menyebut diri suku Alas dan Gayo.
Menyimak analogi di atas, seolah-olah teori-teori itu benar adanya, apalagi didukung oleh mitologi-mitologi Batak yang banyak variasi. Tapi jika ditilik dan diteliti lebih jauh maka nyatalah uraian-uraian tersebut hanya praduga semata. Dugaan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara akademis maupun ilmiah kebenarannya. Bagaimana tidak..!
Jikalah benar sebuah komunitas – kelompok masyarakat – pernah menetap selama ribuan tahun di suatu tempat, seperti dataran tinggi Toba misalnya, mengapa tidak meninggalkan jejak atau bekas-bekas yang sebanding dengan ketuaan peradaban komunitas tersebut..? Begitu pula dengan Pulau Panai, Singkel, Barus, Sorkam, Pandan dan lain sebagainya, mengapa tidak ada ditemukan situs purba kala, fosil, gerabah, artefak dan lain sebagainya? Apa kira-kira yang menjadi penyebab? Apakah ada yang memusnahkan, atau..., memang tidak pernah terjadi sama sekali? Atau.., apakah tertutup kemungkinan kalau migrasi pertama kalinya nenek moyang orang Batak ke Pulau Sumatera melalui pelabuhan lain, seperti Teluk Aru misalnya..?
Spanyol pernah dikuasai Arab selama sekian ratusan tahun. Meski bangsa Arab telah meninggalkan Spanyol namun sisa-sisa kebudayaan Arab tidak hilang begitu saja. Karena beberapa wilayah di Spanyol masih akrab dengan sisa-sisa kebudayaan Arab hingga saat ini. Artinya sekian ratus tahun saja bangsa Arab menduduki wilayah Spanyol, masih menyisakan jejak – bekas-bekas – peninggalan. Bagaimana jika ribuan tahun..?
Dari sisi lainnya, andaikatalah benar suku bangsa Batak itu berasal dari Birma, Siam atau Kamboja, mengapa Aksara maupun ilmu pengetahuan Astronominya tidak sama. Tidak cocok atau ketemu sama sekali..? Apalagi bagi mereka yang masuk melalui Sorkam dan Barus, yang nyata-nyata tidak menggunakan bahasa Batak Toba Tua sebagai bahasa pengantar sehari-hari di wilayah itu, melainkan bahasa Malaya Utara, seperti, “kandilo ungon datang he, jawabnya kapotang.” “Artinya kapan kalian datang, jawabnya petang tadi.” Ini kan bahasa Melayu..! Sementara itu bentuk rumah-rumah mereka pun sangat kontras dengan rumah masyarakat Batak. Bentuk rumah pendatang baru itu sangat kental corak Melayunya. Tegasnya, sebelum pendatang baru itu masuk ke Sorkam dan Barus, suku bangsa Batak sudah lama berdomisili di sana – di Sumatera Bagian Utara (Fernand Mendez Pinto).
Apalagi dengan aksaranya. Justru ke aksara Indialah aksara Batak kuno bisa dipertemukan, karena ada kemungkinan sumbernya sama, yaitu dari Aksara Palawa. Makanya dari itu tidaklah mengherankan apabila terdapat beberapa persamaan unsur kata bahasa Batak Toba Tua dengan kata-kata yang ada dalam bahasa Sansekerta kuno. Seperti istilah Raja, Guru, Gaja, Singa, Naga, dan lain sebagainya. Itu terjadi karena kemungkinan besar sumber aksara mereka sama, yaitu dari aksara Palawa.
Artinya, jauh lebih masuk akal kalau suku bangsa Batak dikatakan berasal dari India apabila ditilik dari kedekatan aksaranya. Akan tetapi itu pun belum pas benar karena akan terbentur pada pengetahuan purba lainnya yaitu ilmu pengetahuan Perbintangan (Astronomi/Parhalaan). Karena konsep ilmu pengetahuan Perbintangan mereka – Batak dan India – masing-masing berdiri sendiri, tidak ketemu satu sama lain, dimana metode atau rumus perhitungan pergeseran waktu mereka – kedua ilmu pengetahuan tersebut – sangat berbeda. Perbedaan ini dapat dibuktikan melalui jatuh tempo Tahun Barunya Batak (Artia Sipaha Sada). Tahun berunya Batak – Artia Sipaha Sada – selalu jatuh pada awal tahun masehi, yakni antara pertengahan Februari dan Maret, yang tidak akan pernah bertemu dengan jatuh tempo Tahun Barunya India (Hindu) yang jatuh temponya menjelang akhir tahun masehi.
Menurut penelitian Dada Meuraxa, justru kebudayaan Mesir purbalah yang banyak mempengaruhi budaya Batak Tua, seperti cara menguburakan orang mati. Dimana orang mati biasanya dimasukkan ke dalam Poti atau LIANG BATU selama berhari-hari, sembari ditangisi (diandungi). Punya tongkat keramat yang disebut SEHKMET (berwarna merah) seperti tongkat pada jaman nabi Musa – Tunggal Panaluan, sebutan orang Batak – kemudian pembuatan Spinx kecil dan lain sebagainya.
Kebiasaan-kebiasaan suku bangsa Batak Toba Tua itu terdapat juga pada kebiasaan Mesir purba. Banyaknya jejak maupun tanda-tanda peradaban Mesir purba di budaya Batak bisa menyimpulkan bahwa, kemungkinan besar sejak zaman dahulu kala hubungan baik ke dua bangsa ini telah terjalin baik, yakni sejak ribuan tahun silam.
Artinya, begitu banyak hipotesa-hipotesa yang dimunculkan oleh mereka yang mengaku-ngaku ilmuwan, cendikiawan dan ahli sejarah, yang hanya berlandaskan prakiraan semata, lantas cuap-cuap di forum resmi tanpa mempertimbangkan unsur akademis, logika maupun fakta-fakta sejarah, yang akhirnya menimbulkan multi tafsir di tengah-tengah masyarakat, terutama khalangan akademisi muda.
Seperti penjelasan-penjelasan terdahulu, semenjak masuknya Islam ke Sumatera, akhir abad XIII, perang antara kerajaan Batak – mungkin Haru – dengan tetangganya Samudra Pasai yang juga melibatkan Malaka terus berkecamuk, hingga akhirnya pasukan Batak terdesak ke pegunungan, meninggalkan wilayah teritorialnya sendiri, Pesisir Timur Sumatera bagian utara. Berhubung kalah, dan hancur anta-beranta, masyarakatnya cerai-berai akibat perang, pasukan Batak yang kalah perang itu melarikan diri ke pegunungan, bersembunyi dan menutup diri di sana selama ratusan tahun. Sebagian mengungsi ke Alas dan Gayo, sebagian lagi, yang sudah menjadi Islam, bertahan di pesisir. Bisa jadi mereka yang bertahan di pesisir itulah yang mengubah diri menjadi Melayu..?
*** di masa itu banyak sekali mayarakat Batak tidak lagi memakai marga, khususnya mereka yang sudah masuk Islam dan tinggal di pesisir. Mengapa demikian..? Mungkin karena tidak mau dikatakan penyembah berhala (sipelebegu), kafir, barbar, primitif, bahkan pemakan cacing, dan kanibalisme ***
Dan yang patut pula dipertanyakan, apakah tidak tertutup kemungkinan akibat kalah perang masyarakat kerajaan Batak yang tadinya berpusat di sekitar teluk Aru itu lari dan bersembunyi di antara Pegunungan Bukit Barisan, menutup diri selama ratusan tahun – splenditisolation – di sana..? Tidakkah kemungkinan-kemungkinan tersebut patut dipertimbangan sebagai bahan dasar penelusuran kembali alur sejarah Batak yang sudah kabur dan saling-silang, akibat putusnya mata rantai sejarahnya..?
Pertimbangan-pertimbangan di atas hanya sekedar mengingatkan supaya orang-orang Batak tidak lagi terkuptasi oleh mitologi sejarah yang datangnya kemudian, dan mau berkompromi dengan fakta-fakta sejarah.
Jika kemungkinan-kemungkinan tersebut pun masih sulit diterima, maka yang menjadi pertanyaan selanjutnya dan harus dijawab pula adalah, dari mana sebenarnya asal usul mereka ke sana. Kemudian apa latar-belakang perpindahannya..?
Karena, baik para antropolog, arkeolog, etnografi asing, kaum cendikiawan maupun sejarawan, belum mampu mengungkap dan memecahkan misteri tersebut secara jitu dan ilmiah. Tegasnya, sepanjang asal usul dan latar-belakang “perpindahan atau pengisolasian diri” leluhur bangso Batak ke dataran tinggi Toba tidak dapat diungkap, dijawab dengan pas, tegas dan mantap, maka selama itu pula Tarobo Siraja Batak maupun Sejarah yang dituri-turikan itu dianggap mythos atau dongeng belaka oleh masyarakat tertentu, yakni sebagai sejarah tersendiri yang acapkali berbeda dengan sejarah-sejarah umum. Dan ini sangat ironis..!
Sebab, jika sebuah komunitas – suku bangsa – mengisolasikan diri dari masyarakat umum, pergi ke pedalaman – hutan belantara dan pegunungan yang terjal – pasti punya alasan tersendiri. Dan biasanya alasan paling kuat sudah pasti untuk mempertahankan tekad dan kepribadiannya, misalnya supaya tetap merdeka untuk mempertahankan peradaban, kultur dan lain sebagainya. Karena jika mereka takluk dan tunduk kepada “penguasa baru yang membawa kebudayaan dan peradaban baru,” sudah pasti akan diterapkan kepada mereka sebagai bangsa taklukan. Maka dari itu lebih baik mengungsi ke pedalaman atau pegunungan – daripada membiarkan kerusakan tatanan struktur budaya maupun peradaban yang harus mereka pertahankan. Dan alasan tersebut kemungkinan besar menjadi salah satu penyebab kepindahan mereka ke tempat itu. Sama halnya seperti bangsa primitif maupun modern lainnya.
Dalai Lama dan bangsa Tibet – penganut Buddha kuno – misalnya. Mereka lebih memilih tinggal di dataran tinggi Pegunungan Himalaya dari pada harus membaur dengan bangsa India, China maupun Mongol yang barangkali kurang cocok dengan kultur maupun peradaban mereka.
Bisa jadi begitu pula dengan suku bangsa Batak yang lebih memilih tinggal di pegunungan daripada harus membaur dengan mereka yang berbeda kultur maupun peradaban..? Karena sebelum dan sesudah mengisolasikan diri di pegunungan, keluarga besar Siraja Batak bukanlah suku bangsa liar maupun primitif, seperti suku Anak Dalam, Si Umang, Kubu, Sakai dan lain sebagainya, yang mendiami pedalaman Sumatera. Masyarakat Batak sudah mempunyai kebudayaan cukup tinggi pada zamannya. Tidak seperti stigma buruk yang acap kali dilontarkan kelompok-kelompok tertentu, dimana mengatakan orang Batak itu identik dengan barbar, liar dan primitif.
Stigma-stigma buruk semacam itu sangatlah bertentangan dengan fakta yang ada. Ini dibuktikan melalui ilmu pengetahuan, kemampuan maupun keahlian di berbagai bidang yang menjadi produk peradaban Batak masa lalu, seperti pembuatan kalender sendiri – produk pengetahuan ilmu perbintangan yang disebut PARHALAAN – punya tulisan (aksara sendiri) yang dapat dibuktikan melalui ribuan naskah maupun pustaha kuno Batak yang berserakan di berbagai negara, punya pengetahuan tentang strategi perang, ilmu hukum, pemerintahan, pertanian, perniagaan, pengobatan dll, ada Tunggal Panaluan sebagai penunjuk jalan (kompas), punya ilmu sihir (mistik), bahkan punya kepercayaan sendiri sebagai bukti telah mengenal keberadaan Tuhan, yaitu Debata Mulajadi Nabolon.
*** Debata Mulajadi Nabolon adalah sebutan untuk Tuhan Yang Maha Esa bagi kepercayaan – agama – Batak kuno. Adapun Debata na Tolu, sama seperti Trimurti dan Trinitas di agama lain, adalah simbol dari kepercayaan Batak masa lalu ***
Yang pasti kelompok ini bukanlah kelompok masyarakat liar, barbar maupun primitif – kanibal atau pemakan orang – seperti yang distigmakan kebanyakan orang, hanya dikarenakan kematian dua misionari Amerika yang bernama Lehman dan Munson, di Lobu Pining.
Kelompok ini adalah kelompok masayarakat yang berperadaban tinggi. Masyarakat yang taat dan patuh akan adat-istiadat, etika serta asas-asas kepatutan, layaknya prilaku bangsa-bangsa beradab.
Bila diteliti salinan buku-buku Pustaha Batak yang konon katanya berasal dari karya leluhur Siraja Batak, tidaklah kalah mutunya dengan tulisan-tulisan yang ada dalam Pewayangan Jawa. Karena di dalam buku-buku Pustaha Batak Tua banyak dijumpai tulisan-tulisan klasik mengenai sejarah dan Tarombo Suku Bangsa Batak, seperti ilmu pengetahuan tentang mistik, pengobatan, pertanian, hukum, keadilan dan lain sebagainya, sekalipun melalui cara-cara kiasan, yang sepertinya supaya hanya para Datu dan Guru-Guru saja yang tahu dan mengerti. Mengapa demikian? Hal tersebut masih dianggap misteri oleh para pengamat maupun pemerhati sejarah, mungkin dikarenakan kekurangan bahan, materi, atau hal lainnya.
*** Pengertian Datu di masyarakat Batak kuno adalah semacam gelar atau predikat bagi orang-orang yang berpengetahuan luas, sama seperti Sarjana di masa kini. Orang yang berprilaku arif, bijak, dan yang menjadi tempat bertanya masayarakat. Bukan Dukun, seperti yang sering dipelesetkan kebanyakan orang. Karena gelar Datu didapati juga di suku bangsa lain seperti bangsa Melayu dan Minangkabau, namun dalam pengertian yang sebenarnya. Gelar Datu ditabalkan di depan nama tokoh-tokoh besar yang mereka hormati dengan sebutan DATOK atau DATUK - sama seperti yang terdapat pada suku bangsa Batak Toba Tua masa lalu.
Adapun para Datu dan Guru-Guru dimaksud umumnya terdiri dari raja-raja Bius atau segolongannya, karena hanya mereka yang dapat dan dipercaya menafsirkan isi pustaha-pustaha tersebut. Hal serupa juga terdapat dalam tata cara penulisan buku-buku kuno di seluruh dunia. Dan yang perlu digaris-bawahi dalam hal ini adalah, pada buku-buku Pustaha Batak kuno tidak pernah dijumpai prihal tentang prilaku kejahatan, kebejadan, keonaran, kepalsuan, penghianatan dan lain sebagainya, karena buku-buku tersebut dianggap sebagai “kitab sucinya” oleh bangso Batak kuno.
Kemudian yang patut pula dipertanyakan ialah, apabila mau, rasanya tidak sulit bagi masyarakat Batak kuno untuk menuliskan sejarah serta latar-belakang peradaban mereka, termasuk mengapa harus mengisolasikan diri ke pegunungan, termasuk dari mana asal-usul mereka sebelum bermukim di sana. Karena jauh sebelum bermukim di tempat itu mereka sudah tahu baca tulis dan lain sebagainya. Tetapi mengapa mereka tidak melakukan itu, atau tidak berupaya menuliskan prihal tersebut? Mengapa cendrung menggunakan pesan lisan melalui cara “turiturian” – secara berkala – untuk mengisahkan sejarah mereka, yang akhirnya dianggap dongeng belaka karena tidak punya bukti materiil sejarah yang dapat dijadikan acuan dalam proses penelitian ilmiah dan akademis di kemudian hari?
Yang pasti mereka punya alasan kuat dan pertimbangan-pertimbangan tertentu untuk tidak melakukan itu, apalagi hingga saat ini belum seorang pun mampu (dapat) menguak alasan-alasan dimaksud.
Selanjutnya, bila mengacu pada keberadaan pustaha-pustaha Batak yang didiskripsikan oleh: 1. Liberty Manik; Batak-Handschriften. 2. Voorhoeve Petrus; Codices Batacici, Codices Manuckripti XIX, Leiden: Universitaire Pers 1977, Catalogue of Indonesia Manuscripts Part I, Batak Manuscripts, Copenhagen, Denmark: The Royal Liberary 1975, dan Acatalogue of the Batak Manuscripts in the Chester Beatty Library, Dublin: Hodges Figgis & Co.Ltd. 1961. 3. Ricklefs M.C dan P. Voorhoeve; Indonesian Manuscipts in Great Britain, Oxfodr Univercity Press 1977, dapat disimpulkan bahwa tidak ada alasan secara akademis untuk membenarkan stigma-stigma buruk yang mengatakan suku bangsa Batak Toba Tua adalah bangsa liar, barbar atau primitif, alias pemakan orang, sekalipun posisi keberadaannya di pedalaman, di antara lembah dan pegunungan Bukit Barisan – yang pada jaman itu masih sangat liar. Karena ribuan naskah, maupun pustaha-pustaha Batak yang berserakan di manca negara dapat membuktikan dan menjamin ketuaan peradaban masayarakat setempat, sebagai bangsa yang beradab.
Catatan:
Menurut catatan para pengamat asing, sebelum abad XIII – masuknya Islam ke Pasai – tercatat bahwa wilayah kerajaan Batak sangat luas. Mulai dari teluk Aru, hingga sungai Kampar yang berbatasan dengan Jambi. Dari Ajerbangis berbatasan dengan Minangkabau, hingga Singkel yang bebatasan dengan Aceh.
Untuk memperkuat catatan tersebut, I.J.SIMANJUNTAK, penulis PUSTAHA PANUTURAN BATAK, yang pernah melakukan penelitian ke Riau, tahun 1925, dan hasil penelitiannya menjelaskan ketika melakukan perjalanan ke Afdeeling Bengkalis, RIAU, atau Bagan Siapiapi sekarang, melalui sungai Rokan hingga Pasir Pangarajaan, masuk ke sungai Siak – Seri Indrapura – hingga Pekanbaru, dan tidak jauh dari Pekanbaru terdapat perkampungan tua bernama “KAMPUNG BATAK,” yang berdekatan dengan Bangkinang. Konon katanya, asal kata Bangkinang bermula dari kata “Bangke Ni Inang”.
Artinya, jauh sebelum Indonesia merdeka, di Riau terdapat perkampungan Batak tua yang disebut Kampung Batak. Apakah perkampungan tersebut muncul begitu saja tanpa latar-belakang sejarah dan lain sebagainya? Dan mengapa perkampungan Batak setua itu bisa ada di sana jika tidak punya keterkaitan dengan sejarah kerajaan bangso Batak masa lalu?
Data penelitian
Diperkirakan ribuan naskah Batak kuno berserakan di luar negeri. Di Jerman saja ada 500 naskah. Di Perpustakaan Chester Beatty, Dublin, Irlandia 51 nasakah, Perpustakaan Kerajaan Denmark 86 naskah, dan di Italia 20 pustaha dan 4 naskah bambu – yang dibawa Elio Modigliani, ketika berkunjung ke Toba, 1890. Sementara di Universiteitsbibliotheek, Leiden, Belanda, terdapat ribuan lembar transliterasi dan deskripsi dari ratusan naskah Batak. Sampai saat ini belum seorang pun pernah menghitung jumlah naskah-naskah Batak yang ada di Belanda. Menurut perkiraan ribuan naskah Batak tersimpan di museum-museum besar seperti, Tropenmuseum, Amsterdam, dan Geraldus van der Leeuwen, Groningen, Belanda. Demikian pula dengan naskah-naskah yang terdapat di Museum Fur Volkerkunde Wien Vienna, Austria, atau negara-negara Eropa lainnya – termasuk di luar Eropa – dan belum pernah dilakukan infentarisasi tentang keberadaannya, (Uli Kozok).
***Elio Modigliani’s pernah berkunjung ke Toba pada tahun 1890. Pada masa itu ia sempat dianggap masyarakat Batak sebagai “Utusan si Raja Rom” apalagi dengan konsep-konsep “Ratu Adil-nya”. Tokoh Italia ini telah banyak mempengaruhi sejarah orang Batak, (Petrus Voorhoeve, Elio Modigliani’s Batak Books, Archivio per I’Antropologia e la Etnologia Vol.CIX-CX, 1979-1980, hal, 61-96, dan Sitor Situmorang 1993a)
Harapan kami :
Dengan segenap kerendahan hati kami para pemerhati sejarah dan kebudayaan yang berdomisili di Bonapasogit sangat berharap adanya kritik saran maupun masukan dari berbagai fihak demi mendukung upaya penjernihan sejarah Bangso Batak yang belakangan semakin samar-samar. Misalnya melalui kontribusi data dan lain sebagainya demi kesempurnaan artikel-artikel lanjutan, agar generasi mendatang tidak lagi menglami kesulitan ketika hendak melakukan riset maupun penelitian.
Horas..!
Bahan-bahan artikel sebagian dicuplik dari “Buku Sejarah Batak” tulisan BATARASANGTI, Ompu Buntilan Simanjuntak, Pustaha Panuturan Batak rangkuman I.J. Simanjuntak, Warisan Leluhur, Uli Kozok, Aceh Sepanjang Abad, M. SAID, Sejarah Kebudayaan Suku-suku di Sumatera Utara, Dada Meuraxa, dll, oleh ;
P.Wilson Silaen - FORUM SISINGAMANGARAJA XII.
Dahlena Sari Marbun
0 komentar :
Posting Komentar